Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu global yang dibahas di ruang-ruang akademik internasional. Bagi masyarakat pedesaan di Indonesia, dampaknya telah dirasakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang menjadi fokus penelitian tim Universitas Sumatera Utara (USU) yang mengkaji persepsi dan partisipasi masyarakat Desa Telagah, Kabupaten Langkat, dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Penelitian yang dipimpin oleh Prof. Rahmawaty, Guru Besar Fakultas Kehutanan USU, ini menegaskan bahwa masyarakat lokal memiliki peran penting dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Studi tersebut telah dipublikasikan dalam IOP Conference Series: Earth and Environmental Science pada tahun 2024 dan melibatkan kolaborasi peneliti lintas institusi.
Desa Telagah dipilih sebagai lokasi penelitian karena berada di kawasan yang berdekatan dengan hutan dan sangat bergantung pada kondisi alam. Dalam beberapa tahun terakhir, warga merasakan perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi. Musim hujan dan kemarau tidak lagi berjalan seperti sebelumnya, sehingga memengaruhi sektor pertanian, ketersediaan air, dan stabilitas lingkungan.
Melalui wawancara mendalam, kuesioner, dan diskusi kelompok terarah, penelitian ini menemukan bahwa tingkat persepsi masyarakat terhadap perubahan iklim berada pada kategori baik hingga sangat baik. Warga menyadari bahwa perubahan iklim berdampak langsung pada hasil pertanian, kondisi tanah, dan kenyamanan hidup. Mereka juga mengaitkan perubahan tersebut dengan pembukaan lahan hutan dan berkurangnya tutupan vegetasi di sekitar desa.
Selain memiliki persepsi yang positif, masyarakat Telagah juga menunjukkan tingkat partisipasi yang tinggi dalam upaya menjaga lingkungan. Bentuk partisipasi tersebut meliputi kegiatan penanaman pohon, rehabilitasi lahan kritis, pengelolaan lingkungan berbasis gotong royong, serta keterlibatan dalam kegiatan edukasi lingkungan. Beberapa warga bahkan mulai menerapkan pola pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Menurut Prof. Rahmawaty, temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat desa tidak pasif menghadapi perubahan iklim. “Masyarakat memiliki kesadaran dan kemauan untuk berperan aktif dalam menjaga lingkungan mereka. Ini menjadi modal sosial yang sangat penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim,” ujarnya.
Meski demikian, penelitian ini juga mencatat bahwa upaya masyarakat perlu diperkuat dengan dukungan kebijakan dan pendampingan yang berkelanjutan. Program adaptasi berbasis masyarakat, peningkatan kapasitas petani, serta akses informasi dan teknologi ramah lingkungan dinilai sangat diperlukan agar partisipasi yang sudah tinggi dapat memberikan dampak yang lebih optimal.
Temuan dari Desa Telagah ini memberikan gambaran penting bahwa pendekatan berbasis komunitas dapat menjadi strategi efektif dalam menghadapi perubahan iklim. Model ini berpotensi diterapkan di desa-desa lain yang memiliki karakteristik serupa, terutama yang berada di sekitar kawasan hutan atau wilayah rawan perubahan iklim.
Melalui penelitian ini, USU kembali menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan riset yang tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat. Studi ini menegaskan bahwa keberhasilan menghadapi perubahan iklim tidak hanya bergantung pada kebijakan global, tetapi juga pada kesadaran dan partisipasi masyarakat di tingkat lokal.