Tanjung Morawa, 21 September 2026 – Program Studi Magister Manajemen Properti dan Penilaian (MMPP), Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (USU), melaksanakan kunjungan akademik ke PT Nusa Dua Propertindo (NDP) dalam rangka memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai praktik manajemen aset dan pengembangan properti. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran Mata Kuliah Manajemen Properti 1 yang diampu oleh Prof. Dr. Khaira Amalia Fachrudin, S.E., Ak., MBA, CA, MAPPI (Cert) dengan fokus kajian pada pengalihan aset tidak produktif menjadi aset produktif yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi dan sosial.

Kegiatan kunjungan diikuti oleh mahasiswa MMPP USU, yaitu Daniel Panca Pasanda, Gokma Ferdinanta Sihombing, Tengku Rico Ardhin, dan Ricky Gunawan Sitorus. Melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi kegiatan, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memahami secara langsung implementasi konsep manajemen aset yang selama ini dipelajari dalam perkuliahan.

Dalam sesi wawancara, narasumber dari PT Nusa Dua Propertindo, Triandi Heru Herianto Siregar, menjelaskan bahwa aset yang menjadi objek pengembangan berasal dari lahan perkebunan sawit eks Hak Guna Usaha (HGU) yang tersebar di kawasan Helvetia, Sampali, Sei Tuan, Bandar Khalipah, Batang Kuis, dan Tanjung Morawa. Perubahan kebijakan tata ruang wilayah MEBIDANGRO menyebabkan sebagian kawasan tersebut tidak lagi sesuai untuk aktivitas perkebunan sehingga diperlukan upaya optimalisasi melalui fungsi baru yang lebih produktif.

Proses transformasi tersebut berawal dari rencana jangka panjang PTPN II yang telah disusun sejak tahun 2011 dan kemudian berkembang menjadi konsep kawasan kota mandiri yang dikenal sebagai Deli Metropolitan. Kehadiran infrastruktur strategis nasional, seperti Bandara Internasional Kualanamu dan jaringan jalan tol, semakin memperkuat potensi pengembangan kawasan tersebut menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sumatera Utara.

Pengembangan yang dilakukan oleh PT Nusa Dua Propertindo menunjukkan penerapan prinsip-prinsip manajemen aset secara komprehensif. Dalam teori manajemen aset, aset yang tidak lagi memberikan manfaat optimal perlu dievaluasi, direncanakan kembali pemanfaatannya, dan dioptimalkan melalui penggunaan yang mampu menghasilkan nilai ekonomi tertinggi dan terbaik (highest and best use). Konsep ini menjadi landasan penting dalam pengambilan keputusan pengembangan aset yang sebelumnya kurang produktif.

Sebanyak 2.514 hektare lahan disertakan sebagai penyertaan modal melalui mekanisme inbreng secara bertahap. Untuk menjamin akurasi dan objektivitas nilai aset, proses penilaian dilakukan dengan melibatkan penilai independen atau Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP). Pendekatan tersebut merupakan praktik tata kelola aset yang baik dan mendukung prinsip transparansi dalam pengembangan kawasan.

Hasil optimalisasi menunjukkan peningkatan nilai yang sangat signifikan. Nilai tanah yang sebelumnya berada pada kisaran Rp300.000 per meter persegi meningkat menjadi sekitar Rp3,5 juta hingga Rp9 juta per meter persegi setelah dikembangkan. Peningkatan tersebut menjadi indikator keberhasilan strategi pengelolaan aset dalam menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan.

Dalam pelaksanaan proyek, PT Nusa Dua Propertindo menerapkan model Kerja Sama Operasional (KSO) dengan mitra pengembang nasional. Skema ini dipilih untuk memperkuat kapasitas pengembangan, mempercepat realisasi proyek, serta mengoptimalkan pemanfaatan aset yang dimiliki.

Melalui mekanisme tersebut, PT NDP berperan menyediakan lahan yang telah memiliki kejelasan status hukum dan siap dikembangkan, sementara mitra pengembang bertanggung jawab terhadap pembangunan fisik, pemasaran, dan pengelolaan kawasan. Pola kolaborasi ini menjadi contoh penerapan strategi optimalisasi aset melalui kemitraan yang memberikan manfaat bagi seluruh pihak terkait.

Selain meningkatkan nilai aset perusahaan, pengembangan kawasan juga memberikan dampak positif terhadap masyarakat dan wilayah sekitarnya. Proses pembangunan membuka peluang kerja bagi tenaga kerja lokal, baik pada tahap persiapan lahan, konstruksi, keamanan, maupun layanan pendukung lainnya. Infrastruktur dasar seperti jalan, jaringan listrik, air bersih, dan fasilitas kawasan turut berkembang seiring dengan pembangunan kawasan perumahan.

Keberhasilan awal pengembangan juga terlihat dari tingginya respons pasar. Kawasan Helvetia yang menjadi salah satu lokasi pengembangan berhasil mencatat penjualan seluruh unit yang dipasarkan dalam waktu relatif singkat. Hal ini menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap kawasan hunian yang terintegrasi dan didukung oleh infrastruktur yang memadai.

Selain aspek ekonomi, perusahaan juga berkomitmen menjaga keberlanjutan lingkungan melalui rencana pengembangan kawasan hijau pada sebagian wilayah yang dikelola. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan yang saat ini menjadi perhatian penting dalam industri properti modern.

Kunjungan akademik ini memberikan pengalaman pembelajaran yang sangat berharga bagi mahasiswa MMPP USU. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai aspek teknis pengembangan properti, tetapi juga mempelajari pentingnya sinkronisasi antara regulasi pertanahan, tata ruang, penilaian aset, manajemen risiko, dan tata kelola perusahaan dalam pengelolaan aset skala besar.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana aset yang semula kurang produktif dapat ditransformasikan menjadi kawasan perumahan dan bisnis yang memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi perusahaan, pemerintah daerah, serta masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi bukti nyata pentingnya manajemen aset sebagai instrumen strategis dalam menciptakan nilai tambah, meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, dan mendukung pembangunan wilayah secara berkelanjutan.