DELI SERDANG — Universitas Sumatera Utara (USU) melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat TALENTA 2026 mendorong penguatan kemandirian ekonomi perempuan melalui kegiatan pemberdayaan ibu rumah tangga di Desa Suka Maju, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Youtube :

PKM Talenta USU 2026 Bangun Mindset Kewirausahaan Ibu Rumah Tangga melalui Pengolahan Jagung di Desa Suka Maju Sibolangit

Mengusung semangat “Membangun Mindset Kewirausahaan Ibu Rumah Tangga Desa Suka Maju Sibolangit”, kegiatan ini diarahkan untuk mendorong perempuan agar mampu melihat potensi lokal sebagai peluang usaha produktif. Salah satu potensi yang dikembangkan adalah komoditas jagung yang selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk mentah.

Program pengabdian ini mengangkat tema “Strategi Penguatan Resiliensi Ekonomi Perempuan melalui Transformasi Nilai Jagung Menjadi Produk Tepung Pangan Pascabencana di Desa Suka Maju Sibolangit.” Program tersebut didukung oleh pendanaan Non-PNBP Universitas Sumatera Utara melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USU Tahun Anggaran 2026.

Mengubah Potensi Lokal Menjadi Peluang Usaha

Desa Suka Maju memiliki potensi pertanian jagung yang dapat dikembangkan menjadi sumber nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Namun, ketergantungan pada penjualan jagung mentah membuat nilai tambah yang diterima petani relatif terbatas dan usaha mereka rentan terhadap fluktuasi harga serta gangguan distribusi.

Kondisi ini menjadi semakin penting untuk diperhatikan setelah bencana banjir dan longsor pada akhir 2025 mengganggu akses jalan dan distribusi hasil pertanian di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Sibolangit.

Melalui program ini, tim pengabdian USU mendorong perubahan pola pikir kewirausahaan, dari sekadar menjual hasil pertanian menjadi mengolah bahan baku lokal, menciptakan produk bernilai tambah, dan mengembangkan usaha yang dikelola secara berkelompok.

Kelompok perempuan PKK Desa Suka Maju menjadi mitra utama dalam program pemberdayaan ini. Perempuan ditempatkan bukan hanya sebagai peserta pelatihan, tetapi sebagai pelaku utama yang diharapkan mampu mengembangkan potensi jagung menjadi kegiatan ekonomi produktif bagi keluarga dan masyarakat desa.

Penerapan Teknologi Tepat Guna dan Diversifikasi Produk

Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkenalkan pengolahan jagung menjadi tepung pangan melalui pemanfaatan teknologi tepat guna berupa mesin pengering dan mesin penggilingan jagung.

Teknologi tersebut diarahkan untuk membantu mengurangi ketergantungan pada penjemuran tradisional, menjaga kualitas bahan baku, serta mendukung proses produksi tepung yang lebih efisien dan konsisten.

Pengembangan usaha tidak berhenti pada produksi tepung jagung. Program ini juga membuka peluang diversifikasi produk pangan, antara lain cipera, cimpa jagung, gulame jagung, puding jagung, keripik jagung, bolu jagung, dan berbagai olahan lainnya.

Dengan diversifikasi tersebut, jagung diharapkan memiliki pemanfaatan yang lebih luas. Tepung jagung dapat menjadi bahan baku berbagai produk pangan yang berpotensi menjangkau pasar yang lebih beragam dan memberikan nilai tambah dibandingkan dengan penjualan jagung mentah.

Selain aspek produksi, pengembangan identitas produk melalui merek, logo, dan kemasan juga menjadi bagian dari upaya mempersiapkan produk agar lebih mudah dikenali konsumen dan memiliki daya saing.

Membangun Mindset Kewirausahaan dan Kemampuan Mengelola Usaha

Program PKM Talenta USU 2026 mengintegrasikan keterampilan pengolahan pangan dengan penguatan manajemen dan akuntansi usaha. Pendekatan ini penting agar kelompok perempuan tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga memahami cara menjalankan usaha secara terencana.

Materi pendampingan mencakup perencanaan produksi, identifikasi biaya, perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), analisis Break-Even Point (BEP) atau titik impas, penetapan harga jual, pencatatan keuangan sederhana, dan pengelolaan arus kas.

Melalui penguatan kemampuan tersebut, peserta diharapkan dapat membedakan penerimaan penjualan dan keuntungan usaha, menentukan harga yang sesuai dengan biaya produksi, serta mengelola keuangan agar kegiatan usaha dapat terus berjalan.

Program ini juga diarahkan untuk membangun sistem kerja kelompok melalui pembagian tanggung jawab produksi, keuangan, dan pemasaran. Dengan demikian, usaha yang dikembangkan diharapkan tidak bergantung pada satu orang, tetapi dapat dikelola bersama secara lebih terstruktur.

Hasil Sementara Menunjukkan Penguatan Kapasitas Peserta

Berdasarkan laporan kemajuan program, evaluasi terhadap 13 peserta menggunakan delapan indikator dengan skala Likert lima poin menunjukkan rata-rata capaian pemahaman sebesar 3,27 dari skala 5.

Pemahaman peserta mengenai identifikasi biaya produksi memperoleh rata-rata tertinggi, yaitu 3,46. Sementara itu, pemahaman tentang perhitungan HPP memperoleh rata-rata 3,00 sehingga masih memerlukan pendampingan lebih lanjut.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa peserta telah memiliki dasar pemahaman mengenai pengelolaan usaha, tetapi penerapan keterampilan secara mandiri masih perlu diperkuat melalui praktik menggunakan data produksi dan transaksi yang sebenarnya.

Karena itu, tahapan lanjutan program diarahkan pada penguatan penerapan teknologi, pengembangan produk pangan turunan, penyempurnaan kemasan, pengembangan pasar, pendampingan legalitas produk, serta penguatan kelembagaan usaha kelompok.

Mendorong Kemandirian Ekonomi Perempuan yang Berkelanjutan

Tim pengabdian ini diketuai oleh Prof. Dr. Elisabet Siahaan, S.E., M.Ec., dengan anggota Dr. Nauas Domu Marihot Romauli, S.TP., M.Eng., Yuni Lestari Br Sitepu, S.E., M.Si., Fauziah Kumalasari, S.E., M.Ak., dan Taufik Akbar Parluhutan, S.E., M.Si.

Program ini sejalan dengan upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 5 tentang Kesetaraan Gender, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan melalui pengembangan potensi pangan lokal.

Melalui kolaborasi keilmuan dan pendampingan langsung kepada masyarakat, USU berupaya mendorong perempuan desa mengambil peran yang lebih besar dalam rantai nilai ekonomi, mulai dari pengolahan bahan baku, pengembangan produk, pengemasan, pemasaran, hingga pengelolaan keuangan usaha.

Pada akhirnya, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari kemampuan menghasilkan tepung jagung, tetapi juga dari kemampuan kelompok perempuan untuk mengelola usaha secara mandiri dan berkelanjutan.

Dari jagung lokal menjadi produk bernilai tambah, dari keterampilan menjadi peluang usaha, dan dari pemberdayaan perempuan menuju kemandirian ekonomi keluarga. Inilah semangat yang ingin dibangun melalui PKM Talenta USU 2026 di Desa Suka Maju, Sibolangit.