home icon
search icon
menu icon

> Berita > Kompos Palsu Berbahayakah dan Bagaimana Mendeteksinya

Kompos Palsu Berbahayakah dan Bagaimana Mendeteksinya

Dipublikasi Pada

25 Oktober 2023

Dipublikasi Oleh

Mutia Sukma Dilla, S.S.I

Kompos Palsu Berbahayakah dan Bagaimana Mendeteksinya
Thumbnail Kompos Palsu Berbahayakah dan Bagaimana Mendeteksinya

Keberadaan pupuk inorganik palsu banyak ditemukan di pasar, namun para peneliti dan pelaku di bidang pertanian telah dapat mengidentifikasi secara visual pupuk inorganik palsu dengan yang asli. Belakangan ini kompos palsu juga mulai muncul di pasaran, dengan tempat penjualan di penjual tanaman hias. Kompos palsu ini umumnya tidak memiliki merk dagang apalagi izin penjualan.

Dilihat dari definisinya bahwa kompos merupakan produk dari hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik. Pengomposan merupakan proses perombakan sampah organik segar secara biologi, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi, pada kondisi yang terkontrol menghasilkan substansi yang stabil seperti humus. Pada proses pembuatan kompos dilakukan pengaturan dan pengontrolan proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan. Kompos palsu kadang kala berasal dari perombakan residu organik yang tertimbun, seharusnya hanya disebut sebagai bahan organik saja.   Kompos yang dijual di pasaran berasal dari bakaran sampah yang memilik ciri yang secara kasat mata hampir mirip dengan kompos. Yang lebih berbahaya lagi adalah penjualan serasah dan humus yang berasal dari lantai hutan menjadi kompos di pasaran, dimana efek dari penjualan serasah lantai hutan akan merusak ekosistem dan mengakibatkan erosi. Beberapa longsor di Kabupaten Karo, Sidikalang akibat dari lantai hutan telah bersih sehingga air hutan menjadi air yang mengalir di permukaan tanah dan membawa sejumlah massa tanah.

Dari beberapa penelitian mahasiswa di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara yang telah dilakukan dengan menggunakan berbagai kompos yang dijual di pasar menunjukkan rendahnya kualitas kompos tersebut. Pemberian kompos seharusnya akan memberi efek pada peningkatan kadar karbon organik tanah, namun pada aplikasi kompos yang disinyalir palsu
 

sebanyak 20 ton/ha mengakibatkan kadar bahan organik lebih rendah dibandingkan dengan tanah tanpa aplikasi kompos. Kompos merupakan sumber hara bagi tanaman, namun tidak halnya pada kompos palsu. Pemberian kompos palsu sebanyak 40 ton/ha mengakibatkan kadar hara nitrogen dalam tanah lebih rendah dibandingkan dengan tanpa pemberian kompos, yang secara ilmiah diistilahkan dengan telah terjadi immobilisasi hara nitrogen. Sejalan dengan itu, kompos palsu juga mengakibatkan tinggi tanaman jagung 13% lebih rendah daripada tinggi tanaman tanpa kompos pada aplikasi 10 ton/ha. Penggunaan kompos komersial sebagai bahan baku pembuat compost tea (pupuk organik cair) mampu meningkatkan bobot tanaman sawi tertinggi sebesar 67,2 g/tanaman, sementara bobot tertinggi tanaman sawi pada kompos yang diproduksi oleh peneliti dengan jumlah yang sama adalah 72,8 g/tanaman.

Kenapa sampah dibakar?

 

Pembakaran sampah dlakukan hampir berlaku pada seluruh rumah tangga di kota Medan. Beberapa alasan pembakaran sampah yaitu cara yang paling mudah dan hemat biaya menghilangkan sampah dari sekitar rumahnya, atau untuk meniadakan restribusi sampah, bahkan ada yang sudah menjadi kebiasaan untuk membakar sampah pada sore hari. Kebanyakan dari masyarakat tidak mempunyai pengetahuan tentang penanganan sampah rumah tangga, serta tidak mengetahui seberapa berbahayanya pembakaran sampah terhadap kesehatan dan lingkungan.   Disamping itu tidak adanya peraturan dan tindakan yang tegas dari pemerintah daerah bagi pelaku pembakar sampah, sehingga masyarakat yang memiliki pengetahuan penanganan sampahpun masih tetap membakar sampah. Di beberapa negara maju pembakaran sampah sudah dianggap tindakan kriminal dan diberi sanksi hukuman penjara atau denda. Sebagai contoh di Singapura denda yang diberikan bagi pelaku membuang sampah sembarangan maupun membakar sampah hingga sebesar 5000 $ singapura atau sekitar 50 juta atau hukuman penjara selama 3 bulan.

Hasil pembakaran sampah pada bak sampah akan menumpuk, nama lokalnya adalah tanah bakaran. Jika melihat dari keragaman sampah yang dibakar, pembakaran sampah rumah tangga di kota Medan berpotensial untuk menghasilkan dioxin. Beberapa oknum mengumpulkan tanah bakaran ini dan menjualnya sebagai kompos, karena ciri dari bakaran sampah ini secara kasat mata sangat mirip dengan kompos. Bahkan orang awam beranggapan tanah bakaran yang berasal dari bak sampah merupakan media tanam yang subur.
 

Berbahayakah kompos palsu?

 

Proses pembakaran bahan organik akan menghasilkan gas Nogas SO2, CO2, CO, partikel debu dan bahan padatan. Gas CO dihasilkan jika tumpukan sampah kekurangan O2. Gas monoksida (CO2) merupakan gas yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan.   Bila gas ini terhirup, maka fungsi haemoglobine dalam mendistribusikan Oakan terganggu dan selanjutnya akan menurunkan tingkat kesadaran. Bagi lingkungan, gas CO potensial merusak lapisan ozone.

Pembakaran residu organik menurunkan kualitas residu. Kualitas sekam padi dan abu sekam padi (sekam padi yang telah dibakar) menunjukkan bahwa karbon organik, N total, P tersedia, K, Ca, Mg dapat dipertukarkan dan rasio C/N abu sekam padi berturut-turut sebesar 18,50%, 0,77%, 26.0 mg kg-1, 0,66 cmol kg-1, 0,32 cmol kg-1, 1,06 cmol kg-1, 0,20 cmol kg-1 dan 24, sementara pada sekam padi berturut-turut sebesar 26,0%, 0,81%, 34.0 mg kg-1, 0,72 cmol kg- 1, 0,24 cmol kg-1, 0,96 cmol kg-1, 0,40 cmol kg-1 dan 32.

Pembakaran bahan organik tanpa campuran bahan sintetis maupun plastik saja akan memberikan dampak negatif, apalagi sampah rumah tangga yang dihasilkan terdiri dari limbah organik, plastik dan bahan sintetik seperti PVC pembungkus kabel, kulit sintesis dan lantai vinil yang mengandung klor. Pembakaran bahan tersebut akan menghasilkan gas HCl yang korosif. Pembakaran bahan tersebut dengan suhu kurang dari 11000C akan menghasilkan dioksin – zat yang dianggap sebagai racun tumbuhan (herbisida), dan memungkinkan dihasilkan phosgen yaitu racun yang digunakan pada Perang Dunia I.

Emisi tahunan dari polychlorinated dibenzo-p-dioxins dan dibenzofurans (PCDD/Fs) yang berasal dari pembakaran residu tanaman disetiap provinsi di China antara tahun 1997 and 2004 diperkirakan berkisaran dari 1,38 x 103 sampai 1,52 x 103 g I-TEQ/tahun, yang mana berkontribusi sebesar 10% -20% dari total emisi di China.

Dioksin adalah polutan lingkungan yang sangat potensial meracuni makhluk hidup. Nama kimiawi dari dioksin adalah 2,3,7,8-tetrachlorodibenzo para dioxin (TCDD). Nama dioksin diperuntukkan untuk family yang berhubungan secara struktural dan kimiawi dengan polychlorinated dibenzo para dioxins (PCDDs) dan polychlorinated dibenzofurans (PCDFs). Ada sekitar 419 tipe dioksin yang telah teridentifikasi, 30 diantaranya beracun termasuk TCDD yang sangat beracun.

Di alam, dioksin cenderung terakumulasi dalam rantai makanan. Setelah dioksin masuk ke dalam tubuh makhluk hidup, mereka akan bertahan lama disebabkan stabilitas kimianya dan
 

kemampuannya masuk terabsorbsi dari jaringan lemak. Waktu paruhnya diperkirakan sekitar 7 sampai 11 tahun.

Dalam pembuatan kompos, kualitas bahan menjadi faktor utama dari kualitas kompos yang dihasilkan. Bahan yang terkontaminasi berpotensial menghasilkan polutan. Di Amerika Serikat, pentachlorophenol mengandung PCDDs dan PCDFs dijumpai   di dalam kompos yang kemudian diketahui bahwa berasal dari bahan bakunya. Sebagai contoh kompos yang berasal dari residu pekarangan dapat mengandung PCP jika ada potongan kayu yang telah diolah dengan bahan tersebut. Berikut gambar petugas incenerator di Jepang yang terekspos PCB (Gambar 1), bahkan presiden Ukraine Viktor Yushchenko terkena penyakit chloracne akibat terkontaminasi TCDD (Gambar 2)

Gambar 1. Chlorance dan hyperpigmentation pada muka petugas incenerator

Gambar 2. Presiden Viktor Yushchenko dari

Ukraine sebelum dan setelah terdedah dioksin 2,3,7,8-TCDD

 

Bagaimanakah mengidentifikasi kompos palsu?

 

Secara analisis laboratorium, perbedaan antara kompos palsu dengan yang bukan hasil pengomposan dapat diketahui dengan pasti yaitu dari tingkat kematangan kompos, enzim yang terkandung, populasi mikroorganisme, daya perkecambahan, hara yang terkandung di dalamnya. Karena penjualan kompos dari bekas bakaran sampah hanya terjadi di Indonesia, maka informasi tentang cara mengidentifikasi kompos palsu ini belum diketahui. Penulis sedang melakukan survei dan menguji beberapa metode untuk mengidentifikasi kompos palsu ini secara pengamatan visual yang selanjutnya diikuti dengan pengujian di laboratorium dan rumah kaca.

 

(Artikel ditulis oleh Prof. Ir. T. Sabrina, M.Agr.Sc., Ph.D)

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arnold Schecter, Linda Birnbaum, John J. Ryan, and John D. Constabl. 2006. Review Dioxins: An overview.  Environmental Research 101 : 419–428
 

Peter C. Nnabude and Joe S.C. Mbagwu. 2001. Physico-chemical properties and productivity of a Nigerian Typic-Haplustult amended with fresh and burnt rice-mill wastes. Bioresource Technology 76:265-272

Qing Zhang, Jun Huang, Gang Yu. 2008. Polychlorinated dibenzo-p-dioxins and dibenzofurans emissions from open burning of crop residues in China between 1997 and 2004.  Environmental Pollution 151 : 39-46

Robet Tyson Suhendra. 2011. Dampak pemupukan P dan pemberian media tanam komersial terhadap pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays, L) dan beberapa sifat kimia tanah Ultisol asal Mancang Kabupaten Langkat. Skripsi. Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

Wandy Firmansyah. 2009. Aplikasi beberapa jenis compost tea terhadap perubahan jumlah mikroorganisme tanah Incepisol, produksi dan kualitas sawi (Brassica juncea L). Skripsi. Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

Berita