> Berita > Profesor Dr. Ahmad Zaharin Aris Menyampaikan Kuliah Berwawasan tentang Forensik Lingkungan dan Hidrokimia
Profesor Dr. Ahmad Zaharin Aris Menyampaikan Kuliah Berwawasan tentang Forensik Lingkungan dan Hidrokimia
Dipublikasi Pada
07 November 2023
Dipublikasi Oleh
Threesna Sharfina
Thumbnail Profesor Dr. Ahmad Zaharin Aris Menyampaikan Kuliah Berwawasan tentang Forensik Lingkungan dan Hidrokimia
Profesor Dr. Ahmad Zaharin Aris menyampaikan kuliah berwawasan tentang Forensik Lingkungan dan Hidrokimia
Medan, 7 November – Profesor Dr. Ahmad Zaharin Aris, CEnv, MRSC, FAPM, FASc., seorang pakar terkemuka di bidang ilmu lingkungan, hari ini menyampaikan kuliah yang mencerahkan dengan topik “Forensik Lingkungan dan Hidrokimia.” Kuliah ini diselenggarakan dalam format hybrid, dengan audiens langsung di Ruang Rapat No. 1 Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (USU) serta peserta daring yang bergabung melalui Zoom Meeting.
Dalam kuliahnya, Profesor Dr. Ahmad Zaharin Aris menyoroti isu mendesak terkait pencemaran lingkungan di negara-negara Asia Tenggara, khususnya di Malaysia, Indonesia, dan Thailand. Ia mengungkap tantangan kompleks yang dihadapi oleh negara-negara ini, mulai dari polusi industri hingga dampak pariwisata terhadap ekosistem yang rapuh.
Salah satu momen menarik dalam kuliah ini adalah ketika seorang peserta bernama Eriyusni mengajukan pertanyaan mengenai dampak lingkungan dari budidaya ikan dalam keramba di Danau Toba, mengingat rencana pengembangan kawasan tersebut sebagai destinasi pariwisata internasional. Eriyusni juga menanyakan langkah-langkah yang sebaiknya diambil oleh pemerintah untuk mengatasi masalah ini.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Profesor Dr. Ahmad Zaharin Aris memberikan analisis mendalam. Ia menjelaskan bahwa berbagai faktor lingkungan dan ekonomi yang saling berkaitan memengaruhi kondisi Danau Toba. Pengelolaan limbah yang baik, terutama dalam konteks pariwisata, sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem danau. Limbah berlebih dapat menyebabkan kondisi air menjadi toksik, yang berdampak negatif pada kehidupan akuatik dan mikrobioma danau.
Profesor Ahmad Zaharin Aris juga menyoroti masalah kelebihan kapasitas, di mana diperkirakan terdapat sekitar satu juta ikan dalam keramba di Danau Toba. Ia menekankan perlunya analisis menyeluruh untuk menilai kelayakan dan keberlanjutan budidaya ikan di perairan terbuka, dengan regulasi yang tepat guna mencegah kerusakan lingkungan.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa ikan bukan hanya menjadi tantangan lingkungan, tetapi juga daya tarik utama di Danau Toba. Menyeimbangkan dampak ekologi dengan manfaat ekonomi dari industri perikanan menjadi tantangan kompleks yang membutuhkan perencanaan dan pertimbangan matang, terutama dalam upaya pengembangan sektor pariwisata internasional.
Sebagai kesimpulan, Profesor Dr. Ahmad Zaharin Aris menegaskan pentingnya pengumpulan sampel kerang, ikan, dan mikrobioma untuk melacak perubahan populasi serta menilai kualitas air, tanah, dan udara. Data ini dianggap sangat penting untuk pemantauan dan perlindungan lingkungan, membantu memahami serta mengurangi dampak pencemaran di kawasan Danau Toba.